<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Istiqomah di Atas Manhaj Salaf</title>
	<atom:link href="http://srisumanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://srisumanto.wordpress.com</link>
	<description>Lau kaana Khairan  Lasabaquuna Ilaihi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Dec 2011 14:41:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='srisumanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/26bb9fe7b47e07db16f5b7561cd53b96?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Istiqomah di Atas Manhaj Salaf</title>
		<link>http://srisumanto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://srisumanto.wordpress.com/osd.xml" title="Istiqomah di Atas Manhaj Salaf" />
	<atom:link rel='hub' href='http://srisumanto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Keutamaan Memiliki Banyak Keturunan</title>
		<link>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/15/keutamaan-memiliki-banyak-keturunan/</link>
		<comments>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/15/keutamaan-memiliki-banyak-keturunan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 14:40:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>srisumanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://srisumanto.wordpress.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ المزني رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ وَإِنَّهَا لاَ تَلِدُ، أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « لاَ ». ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ: « تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=449&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<h5 align="justify"><strong><a href="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/mandi-uang-nihh.jpg"><img style="background-image:none;border-bottom:0;border-left:0;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;padding-top:0;" title="mandi-uang-nihh" border="0" alt="mandi-uang-nihh" src="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/mandi-uang-nihh_thumb.jpg?w=119&#038;h=95" width="119" height="95" /></a></strong></h5>
<h5 align="right">عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ المزني رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ وَإِنَّهَا لاَ تَلِدُ، أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « لاَ ». ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ: « تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ »، وفي رواية: « إِنِّى مُكَاثِرٌ الأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » رواه أبو داود والنسائي والحاكم وغيرهم</h5>
<p align="justify">Dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani <em>radhiallahu ‘anhu</em> dia berkata: Seorang lelaki pernah datang (menemui) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan berkata: Sesungguhnya aku mendapatkan seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan (berasal dari) keturunan yang terhormat, akan tetapi dia tidak bisa punya anak (mandul), apakah aku (boleh) menikahinya? Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab: “Tidak (boleh)”, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk kedua kalinya, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kembali melarangnya, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk ketiga kalinya, maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya jumlah kalian) dihadapan umat-umat lain – dalam riwayat lain: para Nabi <em>‘alaihimussalam</em><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn1">[1]</a> – (pada hari kiamat nanti)”<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p><span id="more-449"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Hadits ini menunjukkan dianjurkannya memperbanyak keturunan, yang ini termasuk tujuan utama pernikahan, dan dianjurkannya menikahi perempuan yang subur untuk tujuan tersebut<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn3">[3]</a>. Cukuplah hadits ini sebagai keutamaan bagi orang yang memperbanyak keturunannya dengan cara yang halal, karena dengan itu berarti dia berusaha untuk mewujudkan sesuatu yang diinginkan dan dibanggakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p align="justify">Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:</p>
<p align="justify">- Yang dimaksud dengan keturunan dalam hadits ini adalah keturunan yang shaleh dan diberkahi oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sebagaimana dalam doa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk kebaikan shahabat beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mulia, Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Anas <em>radhiallahu ‘anhu</em> berkata: Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun berdoa (meminta kepada Allah) segala kebaikan untukku, dan doa kebaikan untukku yang terakhir beliau ucapkan: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya”. Anas berkata: Demi Allah, sungguh aku memiliki harta yang sangat banyak, dan sungguh anak dan cucuku saat ini (berjumlah) lebih dari seratus orang<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p align="justify">- Banyak anak bukan berarti banyak masalah, karena agama Islam tidak hanya menganjurkan memperbanyak keturunan, tapi juga menekankan kewajiban untuk mendidik keturunan dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<h5 align="justify">{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}</h5>
<p align="justify">“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).</p>
<p align="justify">- Bagi seorang perempuan yang masih gadis, kesuburannya diketahui dengan melihat keadaan keluarga (ibu dan saudara perempuan) atau kerabatnya<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p align="justify">- Hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya merupakan argumentasi yang menunjukkan tercela perbuatan membatasi keturunan tanpa alasan yang dibenarkan dalam syariat, sebagaimana keterangan para ulama Ahlus sunnah, seperti syaikh Bin Baz, Shaleh al-Fauzan, Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin dan lain-lain.</p>
<p align="justify">- Adapun mengatur kehamilan untuk jangka waktu tertentu maka ini dibolehkan oleh para ulama, sebagaimana keterangan syaikh al-’Utsaimin, dengan dua syarat:</p>
<p align="justify">1). Adanya kebutuhan (yang dibenarkan dalam syariat), seperti jika istri sakit (sehingga) tidak mampu menanggung kehamilan setiap tahun, atau (kondisi) tubuh istri yang kurus (lemah), atau penyakit-penyakit lain yang membahayakannya jika dia hamil setiap tahun.</p>
<p align="justify">2). Izin dari suami bagi istri (untuk mengatur kehamilan), karena suami mempunyai hak untuk mendapatkan dan (memperbanyak) keturunan<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p align="justify">- Semua hadits yang menunjukkan keutamaan membatasi keturunan, seperti hadits “Sebaik-baik kalian setelah dua ratus tahun mendatang adalah semua orang yang ringan punggungnya (tanggungannya); (yaitu) yang tidak memiliki istri dan anak”, dan yang semakna dengannya, semua hadits tersebut adalah hadits yang lemah bahkan beberapa diantaranya batil (palsu)<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn7">[7]</a>. Demikian pula hadits-hadits yang menunjukkan tercelanya memiliki keturunan, semuanya hadits palsu. Imam Ibnul Qayyim berkata: “Hadits-hadits (yang menunjukkan) tercelanya (memiliki) anak semuanya dusta (hadits palsu) dari awal sampai akhir”<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftn8">[8]</a>.</p>
<h5 align="right">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</h5>
<p align="justify">Kota Kendari, 22 Dzulqo’dah 1432 H</p>
<p align="justify">Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni   <br />Artikel <a href="http://www.%20manisnyaiman.com/">www. manisnyaiman.com</a></p>
<div align="justify">
<hr size="1" /></div>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref1">[1]</a> HR Ahmad (3/158) dan Ibnu Hibban (no. 4028) dengan sanad yang hasan.</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref2">[2]</a> HR Abu Dawud (no. 2050), an-Nasa-i (6/65) dan al-Hakim (2/176), dishahihkan oleh Ibnu Hibban (no. 4056- al-Ihsan), juga oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan syaikh al-Albani.</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref3">[3]</a> Lihat kitab “Zaadul ma’aad” (4/228), “Aadaabuz zifaaf” (hal. 60) dan “Khatharu tahdiidin nasl” (8/16- Muallafaatusy syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref4">[4]</a> HSR al-Bukhari (no. 6018) dan Muslim (no. 2481), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref5">[5]</a> Lihat kitab “‘Aunul Ma’buud” (6/33-34).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref6">[6]</a> Al fataawal muhimmah (1/159-160) no. (2764).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “al-Maudhuuaat” (2/281), “al-’Ilal mutanaahiyah” (2/636) keduanya tulisan imam Ibnul Jauzi, dan “Silsilatul ahaaditsidh dha’iifah wal mudhuu’ah” (no. 3580).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-memiliki-banyak-anak/#_ftnref8">[8]</a> Kitab “al-Manaarul muniif” (no. 206).</p>
<br />Filed under: <a href='http://srisumanto.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/srisumanto.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/srisumanto.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/srisumanto.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/srisumanto.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/srisumanto.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/srisumanto.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/srisumanto.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/srisumanto.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/srisumanto.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/srisumanto.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/srisumanto.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/srisumanto.wordpress.com/449/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/srisumanto.wordpress.com/449/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/srisumanto.wordpress.com/449/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=449&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/15/keutamaan-memiliki-banyak-keturunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5bbb3466906cc586782596e6588b5c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">srisumanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/mandi-uang-nihh_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mandi-uang-nihh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Membaca Surat al-Mulk</title>
		<link>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/15/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/</link>
		<comments>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/15/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 14:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>srisumanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://srisumanto.wordpress.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة » حسن رواه أحمد وأصحاب السنن. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=445&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5>بسم الله الرحمن الرحيم</h5>
<h4 align="justify"><strong><a href="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/thumb-php_.jpg"><img style="background-image:none;border-bottom:0;border-left:0;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;padding-top:0;" title="thumb.php" border="0" alt="thumb.php" src="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/thumb-php_thumb.jpg?w=69&#038;h=69" width="69" height="69" /></a></strong></h4>
<h5 align="right">عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة » حسن رواه أحمد وأصحاب السنن. <strong></strong></h5>
<p align="justify">Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga”<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p><span id="more-445"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn2">[2]</a>, karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafa’at dengan izin Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p align="justify">Hadits ini semakna dengan hadits lain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Satu surat dalam al-Qur’an yang hanya (terdiri dari) tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga, yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan”<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p align="justify">Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:</p>
<p align="justify">- Keutamaan dalam hadits ini diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat al-Mulk dengan secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p align="justify">- Surat ini termasuk surat-surat al-Qur’an yang biasa dibaca oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p align="justify">- Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur)<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn6">[6]</a>, akan tetapi penamaan ini disebutkan dalam hadits yang lemah<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p align="justify">- al-Qur’an akan memberikan syafa’at (dengan izin Allah) bagi orang yang membacanya (dengan menghayati artinya) dan mengamalkan isinya<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn8">[8]</a>, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia)”<a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftn9">[9]</a>.</p>
<h5 align="right">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</h5>
<p align="justify">Kota Kendari, 22 Jumadal ula 1432 H</p>
<p align="justify">Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni   <br />Artikel <a href="http://www.manisnyaiman.com">www.manisnyaiman.com</a></p>
<div align="justify">
<hr size="1" /></div>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud (no. 1400), at-Tirmidzi (no. 2891), Ibnu Majah (no. 3786), Ahmad (2/299) dan al-Hakim (no. 2075 dan 3838), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim dan disepakati oleh imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref2">[2]</a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/453).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref3">[3]</a> HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 3654) dan “al-Mu’jamush shagiir” (no. 490), dinyatakan shahih oleh al-Haitsami dan Ibnu hajar (dinukil dalam kitab “Faidhul Qadiir” 4/115) dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 3644).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref4">[4]</a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/115).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref5">[5]</a> HR at-Tirmidzi (no. 2892) dan Ahmad (3/340), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 585).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref6">[6]</a> Lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” (18/205).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref7">[7]</a> Lihat kitab “Dha’iifut targiibi wat tarhiib” (no. 887).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref8">[8]</a> Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/240).</p>
<p align="justify"><a href="http://manisnyaiman.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#_ftnref9">[9]</a> HSR Muslim (no. 804).</p>
<br />Filed under: <a href='http://srisumanto.wordpress.com/category/artikel/'>Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/srisumanto.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/srisumanto.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/srisumanto.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/srisumanto.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/srisumanto.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/srisumanto.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/srisumanto.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/srisumanto.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/srisumanto.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/srisumanto.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/srisumanto.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/srisumanto.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/srisumanto.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/srisumanto.wordpress.com/445/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=445&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/15/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5bbb3466906cc586782596e6588b5c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">srisumanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/thumb-php_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">thumb.php</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titian Ilmu (Bagian 3~Selesai)</title>
		<link>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/titian-ilmu-bagian-3selesai/</link>
		<comments>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/titian-ilmu-bagian-3selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 14:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>srisumanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://srisumanto.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan ilmu dalam As Sunnah Banyak hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan ilmu, namun dalam tulisan singkat ini kita sebutkan beberapa hadits saja. Dinyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu darda’ Radhiallahu ‘anhu Ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((من سلك طريقا يبتغي فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة وإن [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=441&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 align="justify"><a href="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/859675_book___.jpg"><img style="background-image:none;border-bottom:0;border-left:0;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;padding-top:0;" title="859675_book___" border="0" alt="859675_book___" src="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/859675_book____thumb.jpg?w=244&#038;h=184" width="244" height="184" /></a></h4>
<h4 align="justify">Keutamaan ilmu dalam As Sunnah</h4>
<p align="justify">Banyak hadits-hadits yang menerangkan tentang <a href="http://dzikra.com/titian-ilmu-bagian-2/">keutamaan ilmu</a>, namun dalam tulisan singkat ini kita sebutkan beberapa hadits saja.    <br />Dinyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu darda’ <em>Radhiallahu ‘anhu</em> Ia berkata: aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p align="right">((من سلك طريقا يبتغي فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة وإن الملائكة لتضع&#160; أجنحتها رضاء لطالب العلم وإن العالم ليستغفر له من في السماوات ومن في الأرض حتى الحيتان في الماء وإن فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب إن العلماء ورثة الأنبياء إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر)).</p>
<p align="justify"><em>“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah telah membentangkan baginya jalan kesurga, sesungguhnya para malaikat meletakan sayap-sayap mereka (dengan) penuh keredhaan bagi penuntut ilmu, sesungguhnya penghuni langit dan bumi sekalipun ikan dalam air memohon ampunan untuk seorang alim, sesungguhnya keutamaan seorang alim diatas seorang ahli ibadah seperti keutaman (cahaya) bulan purnama atas (cahaya) bintang-bintang, sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya berarti ia telah mendapat bagian yang cukup banyak.”</em> (Hadits hasan lihgaihi, dirwayatkan oleh: At Tirmizi, Abu Daud, Ibnu Majah, dll.).</p>
<p><span id="more-441"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Dalam hadits yang mulia terdapat beberapa keutamaan ilmu yang sangat agung sekali, pertama: jalan menuntut ilmu adalah salah satu jalan menuju surga, kedua: malaikat mencintai dan mendoakan para penuntut ilmu, ketiga: makhluk yang berada dilangit dan dibumi termasuk ikan didalam air memohonkan keampunan untuk penuntut ilmu, keempat: orang berilmu jauh lebih mulia dari seorang pelaku ibadah, kelima: penuntut ilmu adalah pewaris para nabi.</p>
<p align="justify">Ilmu adalah salah satu amalan yang tidak terputus pahalanya, sekalipun tulang belulang pemiliknya telah hancur ditelan tanah namun pahala ilmunya yang diajarkannya tetap mengalir.</p>
<p align="justify">Sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p align="right">((إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاثة ؛ إلا من صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له)).</p>
<p align="justify"><em>“Apabila anak adam meninggal terputuslah segala amalannya, kecuali tiga bentuk: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p align="justify">Betapa agungnya keutamaan ilmu dalam hadits diatas, yang mana ilmu yang bermanfaat merupakan kekayaan yang tak akan sirna disisi Allah, sekalipun sipemiliknya sudah sirna dari alam yang fana ini.</p>
<p align="justify">Hal ini akan terasa sekali bila kita melihat gambaran kehidupan akhirat yang disebut oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya yang mana manusia yang berbuat baik sekalipun akan menyesali amalannya dikarenakan begitu besarnya keuntungan yang diperoleh oleh orang yang beramal baik waktu hidup di dunia pada hari itu, sehingga orang yang mati syahid kalau bisa mereka dihidupkan kembali dan terbunuh dijalan Allah untuk beberapa kali, apalagi orang yang datang dengan amalan jelek pada hari itu akan lebih menyesal lagi, oleh sebab itu Allah kisahkan dalam kitabNya tentang permintaan orang kafir supaya mereka dihidupkan kembali untuk menghabiskan umur mereka dalam beramal baik.</p>
<p align="justify">Tapi lain halnya dengan orang yang menyebarkan ilmu mereka tampa meminta sekalipun pahala amalan mereka&#160; tetap mengalir, apakah kita tidak merindukan hal seperti ini untuk diri kita?…</p>
<p align="justify">Ilmu adalah pintu untuk segala kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:</p>
<p align="right">(( من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين))</p>
<p align="justify">“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk kebaikan, Allah (berikan) pemahaman kepanya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslm).</p>
<p align="justify">Kebaikan yang dimaksud dalam hadits ini adalah umum, mencakup segala kebaikan duniawi maupun ukhrawi, didunia ia akan diberikan kehidupan yang baik, selamat dari berbagai macam kesesatan dan kemungkaran, ia akan membawa kebaikan kepada segenap umat manusia yang berada disekitarnya, dari perkataan dan perbuatanya lahir nilai-nilai kebaikan, ia bagaikan air yang melepaskan kedahagaan dikala manusia haus, yang memadamkan api dikala manusia kebakaran, yang membersihkan noda dikala manusia belumur kotoran, adapun diakhirat kelak ia akan mendapat balasan kebaikan diatas segala kebaikan yaitu surga yang jauh lebih baik dari segala kebaikan dunia beserta segala isinya, betapa agungnya ilmu, sungguh beruntunglah orang-orang yang melakukan perjalanan dimuka bumi ini demi untuk mendapatkan ilmu.</p>
<p align="justify">Sebahagian para ulama salaf pernah berkata: “Barangsiapa yang tidak mengenal ilmu tidak berguna baginya banyak amalan, karena amal tampa ilmu hanya membawa kemudaratan, sesungguhnya kerusakan yang ditimbulkan oleh seorang yang beramal tampa ilmu lebih besar dari kebaikannya.”</p>
<h4 align="justify">Langkah-langkah yang harus ditapaki dalam menuntut ilmu:</h4>
<p align="justify">Berikut ini ingin kita bicarakan perbekalan yang harus dimiliki dalam perjalanan menuntut ilmu, karena tampa perbekalan mustahil perjalanan bisa dilakukan, sesungguhnya perahu tak pernah berlayar diatas daratan kering.   <br /><strong></strong></p>
<p align="justify"><strong>Pertama : Ikhlas dalam menuntut <a href="http://dzikra.com/titian-ilmu-bagian-3/">ilmu</a></strong>    <br />Modal dasar yang harus kita miliki dalam setiap amalan kita adalah ikhlas kepada Allah, apalagi dalam tugas yang mulia ini yaitu menuntut ilmu syar’i, banyak kita lihat sebahagian orang sudah menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu namun ilmu tersebut tidak membawa bekas dalam kehidupannya, ilmu hanya sebatas onggokan yang membeku tampa bisa di manfaatkan, atau lebih tepat lagi disebut ilmu hanya sebatas tsaqofah belaka, atau sebagai pengasah otak belaka, hal ini sangat dipengaruhi oleh niat dan tujuan seseorang tadi dalam menuntut ilmu, sebagian orang hanya untuk mencapai gelar dan kehormatan saja, atau untuk mencari ketenaran dikalangan para intelek, atau demi untuk berbangga ditengah-tengah orang awam, dan lain-lain sebagainya.</p>
<p align="justify">Banyak sekali ayat-ayat maupun hadits-hadits yang mewajibkan kita untuk ikhlas kepada Allah dalam melakukan segala bentuk ibadah, sebaliknya banyak pula ayat dan hadits yang memberikan ancaman kepada orang yang tidak ikhlas dalam amalannya.</p>
<p align="justify">Diriwayakan oleh Abu HurairaHR.<em>adhiallahu ‘anhu</em> dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang manusia yang pertama sekali dihitung amalan mereka,&#160; yaitu tiga jenis: diantara mereka adalah orang yang menuntut ilmu,</p>
<p align="right">((أول من تسعر بهم النار ثلاثة؛ أحدهم رجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها قال تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن قال كذبت ولكنك تعلمت العلم ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل ثم أمر به فسحب&#160; على وجهه حتى ألقي في النار))</p>
<p align="justify"><em>“Orang yang pertama sekali dinyalakan api neraka dengan mereka ada tiga: salah satu diantara mereka adalah seorang yang menuntut ilmu dan membaca Al Quran, maka ia dipanggil dan diperkenalkan kepadanya tentang nikmat Allah, maka iapun mengakuinya, lalu Allah bertanya kepadanya: apa yang ia lakukan terhadap nikmat tersebut?, ia menjawab: aku pergunakan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya serta untuk membaca Al Quran pada Mu, Allah menimpali jawaabnya: kamu telah berdusta, tetapi engkau menuntut ilmu supaya mendapat (sanjungan) supaya dikatakan sebagai seorang alim, dan engkau membaca Al Quran supaya dikatakan orang sebagai seorang Qari’, sungguh telah terbukti demikian, kemudian ia diusung diatas mukanya sampai ia dilemparkan kedalam neraka.”</em> (HR. Muslim no: 1905).</p>
<p align="justify">Ilmu bisa membuat seseorang mencapai tingkat yang mulia disisi Allah di dunia maupun di akhirat kelak, bila dibarengi dengan niat yang ikhlas, tapi sebaliknya bisa membawa malapetaka dan kesensaraan di akhirat kelak, bila kehilangan sifat ikhlas dalam menuntut, mengamalkan dan menyebarkannya.</p>
<p align="justify">Dalam hadits yang lain disebutkan.</p>
<p align="right">((من تعلم علما مما يبتغي به وجه الله عز وجل لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضاً من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها))</p>
<p align="justify"><em>“Barangsiapa yang mempelajari ilmu, dari ilmu mencari wajah Allah, tidaklah ia mempelajarinya kecuali untuk mencari tujuaan duniawi, ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat, yaitu harumnya surga.”</em> (HR. Abu Daud no: 3664).</p>
<p align="justify">Konteks hadits ini menjelaskan kepada kita balasan bagi orang yang menuntut ilmu demi mengejar kesenangan duniawi semata, betapa kecewanya seseorang seketika ia melihat orang-orang yang seiring dengannya dalam menuntut ilmu mereka di payungi menuju surga, namun dirinya yang telah tertipu oleh gemerlapnya dunia digiring menuju nereka.</p>
<p align="justify">Terdapat lagi dalam sebuah hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berbunyi:</p>
<p align="right">((من طلب العلم ليمارى به السفهاء أو ليباهي به العلماء أو ليصرف وجوه الناس إليه فهو في النار)).</p>
<p align="justify"><em>“Barang siapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang awam, atau untuk berbangga dihadapan para ulama, atau untuk mendapat ketenaran dihadapan manusia maka (tempatnya) di neraka.”</em> (HR. Ibnu Majah no: 253).</p>
<p align="justify">Hadits yang satu ini merinci beberapa bentuk ketidak ikhlasan dalam menuntut ilmu berikut balasan bagi orang melakukannya, ketidak ikhlasan bisa berbentuk: pertama untuk memperbodohi orang-orang awam, seperti halnya sebahagian ulama sufi, mereka memperbodohi dan mempemainkan orang-orang awam demi untuk mengeruk keuntungan duniawi, dengan berbagai dalih yang licik dan busuk, bisa dengan dalih kewalian, keberkahan, atau tawasul, syafaat dan sebagainya.</p>
<p align="justify">Kedua: untuk berbangga dihadapan para intelek dan ulama,&#160; banyak kita saksikan dikalangan cedekia, untuk mecapai tingkat intelek harus melakukan hal-hal yang bersifat kekufuran, atau merobah hukum-hukum yang sudah falit dan solit dalam Islam, seperti masalah jender, hijab, tolerasi atar agama, dan banyak lagi yang lainnya.</p>
<p align="justify">Ketiga: untuk mengejar kepopuleran dan ketenaran dihadapan manusia, barang kali bentuk ketiga ini tidak jauh beda dengan bentuk kedua, untuk mencapai kepopuleran bisa dengan mengemukan pendapat yang nyeleneh, bisa pula dengan gaya dan penampilan yang menarik perhatian orang lain, seperti gaya dalam berzikir, berpakaian serta metode-metode dalam berdakwah yang menyimpang dari petunjuk ajaran Islam yang disampaikan oleHR.asulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p align="justify"><strong>Kedua : Memiliki sifat sabar</strong>    <br />Memupuk kesabaran dalam menghadapi berbagai aral yang melintang ditengah-tengah jalan menuntut ilmu penting sekali untuk kita miliki dalam menapaki tujuan mulia ini, rintangan yang akan kita hadapi sesuai dengan tujuan yang hendak kita capai, bila tujuan kita besar rintangannya pun besar.</p>
<p align="justify">Sifat sabar adalah modal dasar dalam menuntut ilmu, begitu juga dalam hal mengmalkan ilmu dan mengajarkannya, oleh sebab itu syekh Muhamad bin Abulwahab dalam kitab beliau <em>ushul ats tsalatsah </em>mengutib perkataan imam Syfi’ie tentang keutamaan kandungan surat Al ‘Ashr, setelah beliau menyebutkan empat tingkatan dalam berilmu: pertama: mempelajari Ilmu, kedua: mengamalkannya, ketiga mendakwakannya, keempat: bersabar dalam setiap tiga tingkatan yang telah disebutkan sebelumnya.</p>
<p align="justify">Kemudian beliau menyebukan surat Al ‘ashr sebagai landasnnya:</p>
<p align="right">وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}</p>
<p align="justify"><em>“Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.”</em></p>
<p align="justify">Dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan bahwa umat manusia itu berada dalam kerugian dalam setiap masa, kecuali orang yang mengisi masanya dengan: iman, amal sholeh, dan menyebarkan kebenaran dan kesabaran.</p>
<p align="justify">Maka manusia yang beruntung adalah orang yang mengisi aktivitasnya dengan hal-hal yang disebutkan dalam ayat ini, sedangkan aktifitas-aktivitas tersebut tidak akan bisa kita lakukan kecuali dengan ilmu, baik dalam memperoleh keimanan perlu dengan ilmu, melakukan amal sholeh perlu dengan ilmu, merealisasikankan kebenaran pun perlu dengan ilmu, bagaimana seseorang akan bisa menyuarakan kebenaran kalau ia tau tentang kebenaran, kebenran yang mutlak hanya ada dalam Islam, kalau seseorang telah beriman maka ia dituntut untuk sabar dalam keimanannya, baik dalam hal memupuk keimanan itu sendiri maupun dalam hal mempertahankannya dari berbagai godaan dan cobaan, begitu pula dalam melakukan amal sholeh perlu kesabaran, apalagi dalam hal menyampaikan kebenaran yang lebih dikenal dengan <em>amar ma’ruf – nahi mungkar</em>, kesabaran adalah salah pondasi untuk tegaknya kebenaran, kesabaran dalam artian yang luas sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan, serta sabar dalam menunggu hasil dari sebuah perjuangan, begitu pula cobaan dan rintangan juga dalam kontek artian yang luas, cobaan dan rintangan bukanlah dalam bentuk yang pahit dan menyakitkan saja tetapi juga dalam bentuk yang mengiurkan dan menyenangkan, boleh jadi berbentuk harta, wanita atau jabatan serta kehormatan lainnya.</p>
<p align="justify">Begitu juga cobaan dan rintangan itu tidak selalu datang pada waktu tertentu bisa diawal perjalanan dan boleh jadi dipertengahan atau di penghujung perjuangan, awal perjuangan adalah menuntut ilmu .</p>
<p align="justify">Menuntut ilmu perlu kesabaran, karena beratnya tugas yang harus diemban mulai dari cuaca, makanan dan kondisi yang asing dari kondisi yang biasa kita dapatkan di tanah air, begitu pula materi pelajaran yang harus kita hadapi menuntut keseriusan dan kesungguhan yang super prima, oleh sebab kesabaran sangat dituntut dalam menuntut ilmu, sekalipun terdapat dalamnya kesulitan tetapi sekaligus didalamnya terdapat kelezatan dan kesenangan, ilmu tidak akan pernah didapatkan kecuali setelah melalui titian yang penuh cobaan dan rintangan, barang siapa yang tidak sabar dalam menghadapi kehinaan sekejab dalam ilmu, ia akan meneguk gelas kebodohan selamanya, amal dan ilmu tidak bisa dicapai tampa kesabaran.</p>
<p align="justify">Allah telah memuji hambanya yang bersabar dalam agamanya:</p>
<p align="right">{وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ} (القصص : 80)</p>
<p align="justify"><em>“Dan berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: celakalah kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak akan memperolehnya kecuali orang-orang yang sabar.”</em></p>
<p align="justify">Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang sabar balasan yang tidak terhingga, sebagaimana dalam firmanNya yang mulia:</p>
<p align="right">{ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ} (الزمر : 10)</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya</em><em> orang-prang yang bersabar mendapatkan pahala mereka tampa batas (yang tak terhingga).&#160;&#160; </em></p>
<p align="justify"><strong>Ketiga : Mengikuti jejak salafus sholeh dalam menuntut ilmu</strong>    <br />Berpegang teguh dengan pemahaman salafus sholeh adalah tembok yang membatasi antara kita dengan ahlul bid’ah atau dari berbagai kelompok-kelompok yang melenceng dari sunnah.</p>
<p align="justify">Yang dimaksud dengan Salaf adalah mereka generasi terkemuka dari umat ini mulai dari para sahabat, para tabi’iin dan para tabi’ tabi’iin yaitu mereka yang hidup pada masa tiga generasi utama dari umat ini.</p>
<p align="justify">Sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “<em>Sebaik-baik manusia adalah masa generasiku kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka lagi.”</em> (H.R Bukhari dan Muslim).</p>
<p align="justify">Kemudian penamaan salaf diberikan kepada setiap orang yang berpegang teguh dengan petunjuk dan pemahaman mereka, dengan ungkapan yang lebih dikenal “salafy.”</p>
<p align="justify">Banyak dalil dari Al Quran dan sunnah serta Atsar dari para sahabat dan para ulama yang menunjukan tentang keutamaan ilmu salaf, oleh sebab itu kita disuruh untuk menapaki jejak mereka, dan berusaha untuk menuntut ilmu yang mereka peroleh, kemudian mengamalkanya dalam kehidupan kita, selanjutnya kita dituntut untuk menyebarkan ilmu salaf tersebut.</p>
<p align="justify">Diantaranya firman Allah dalam At Taubah ayat:100 yang berbunyi:</p>
<p align="right">{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} (التوبة:100)</p>
<p align="justify"><em>“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka denga baik, Allah telah meredhai mereka, merekapun rehda kepada Allah, dan Allah telah menyediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang amat besar.”</em></p>
<p align="justify">Allah telah menjanjikan pahala yang amat besar, balasan yang amat agung bagi siapa yang mengikuti jalan mereka dan berpegang teguh dengan mahaj mereka dalam berilmu dan beramal, semoga Allah menjadikan kita diantara mereka tersebut.</p>
<p align="justify">Dalam surat Annisaa ayat: 115 Allah berfirman lagi:</p>
<p align="right">{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيراً} (النساء:115)</p>
<p align="justify"><em>“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelasnya kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman, kami palingkan ia kemana ia hendak berpaling, dan kami masukan ia kedalam nereka jahannam, dan jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.”</em></p>
<p align="justify">Dalam ayat yang berlalu berbicara tentang kabar gembira bagi siapa yang berpegang teguh dengan petunjuk dan manhaj mereka, adapun dalam ayat ini berbicara tentang ancaman bagi siapa yang menyalahi jalan mereka, kita berselidung dengan Allah dari hal yang demikian.</p>
<p align="justify">Adapun hadits-hadit yang menunjukan tentang wajibnya berpegang dengan pemahaman salafus sholeh dalam berilmu dan beramal amat banyak sekali diantaranya Hadits yang telah berlalu kita sebutkan, hadits iftiroqil ummah, hadits huzaifah yang mashur sekali, yang didalamnya terdapat perintah untuk selalu berpegang denga sunnah mereka.</p>
<p align="justify">Berikut ini kita akan sebutkan pula beberapa Atsar dari sahabat dan ulama-ulama terkemuka dari umat ini.</p>
<p align="justify">Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwa ia berkata: “Senantiasa manusia dalam kebaikan selama masih datang kepada mereka ilmu dari sahabat Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan dari generasi tertua mereka, apabila datang kepada mereka ilmu dari generasi terkebelakanng dan beragamnya hawa nafsu mereka, itulah saatnya kebinasaan mereka.” (Ibnu Mubarak ,<em>Az Zuhud</em>, Hal: 281, no: 815).</p>
<p align="justify">Dalam riwayat lain Ibnu Mas’ud ra berkata: “Barang siapa yang ingin untuk mengikuti sunnah hendaklah ia mengikuti sunnah orang-orang yang telah mati (para sahabat), sesungguhnya orang hidup tidak aman dari fitnah, mereka itu adalah para sahabat Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,&#160; orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, yang paling dalam ilmunya, yang paling sedikit dalam berlebih-lebihan, kaum yang telah dipilih Allah untuk menjadi sahabat nabiNya, sebagai penegak agamaNya, maka hendaklah kalian mengenali hak mereka, dan berpegang teguhlah dengan tuntunan mereka, mereka telah berada diatas petunjuk yang lurus.” (Ibnu Abdil bar, jamik bayanil ilmi: 2/97).</p>
<p align="justify">Umar bin Abdul Aziz pun berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para pemimpin setelah beliau telah menetukan jalan-jalan (yang hendak ditempuh), mentelapakinya adalah merupakan ketundukan kepada kitab Allah, dan kesenpurnaan dalam keta’atan kepada Allah, kekuatan dalam menegakkan agama Allah, tidak seorangpun berhak merubahnya, dan tidak pula menukarnya, dan memandang kepada sesuatu yang menyalahinya, barangsiapa yang menjadikannya petunjuk sesungguhnya ia adalah orang yang diberi petunjuk, barang siapa yang mencari kemenangan dengannya maka ia adalah orang yang menang, dan barangsiapa yang meninggalkannya dan berpaling dari mengikuti jalan orang-orang yang beriman, Allah akan memalingkannya kemana ia berpaling, dan akan memasukannya kedalam neraka jahannam, dan neraka jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.”</p>
<p align="justify">Berkata ibnu Rajab: “Maka ilmu yang paling afdhal dalam menafsirkan Al Quran dan makna hadits, berbicara tentang hukum halal dan haram adalah apa yang dinukil dari sahabat, tabi’iin dan tabi’ tabi’iin sampai kepada ulama-ulama Islam yang sudah masyhur sebagai tempat panutan umat.”</p>
<p align="justify">Mengumpulkan apa yang diriwayatkan dari mereka dalam hal demikian adalah ilmu yang paling afdhal bersertaan dengan memahaminya, memikirkannya, mendalaminya.</p>
<p align="justify">Apa yang terjadi setelah mereka dari peluasan ilmu tidak membawa kebaikan dalam kebanyakannya kecuali bila merupakan syarahan terhadap perkataan mereka.</p>
<p align="justify">Adapun apa yang menyalahi pendapat mereka, kebanyakanya tidak lepas dari kebathilan dan tidak membawa manfaat.</p>
<p align="justify">Dalam perkataan mereka sudah cukup bahkan lebih, maka tiada dalam ungkapan orang-orang yang setelah mereka dari kebenaran kecuali dalam ungkapan mereka sudah terkandung hal itu dengan perkataan yang ringkas dan padat.</p>
<p align="justify">Dan tidak didapati dalam ungkapan orang setelah mereka dari kebatilan kecuali dalam perkataan mereka sudah ada yang menerangkan tentang kebatilannya bagisiapa yang memahaminya dan merenungkannya.</p>
<p align="justify">Dalam perkataan mereka tersimpan makna yang dalam, pandangan yang tajam, apa yang tidak didapati pada orang-orang setelah mereka.</p>
<p align="justify">Barangsiapa yang tidak perduli dengan perkataan mereka, maka ia telah kehilangan segala kebaikan bersamaan dengan itu ia terjerumus kedalam kebatilan, karena mengikuti orang-orang yang setelah mereka. (<em>Fadhlu ilmu salaf</em>: 42).</p>
<h4 align="justify">Parasitisme ilmu</h4>
<p align="justify">Berbagai tujuan yang tidak suci sering mencemari <a href="http://dzikra.com/langkah-langkah-yang-harus-ditapaki-dalam-menuntut-ilmu/">ilmu</a> kita seperti kurangnya keikhlasan, untuk mengejar kesenangan duniawi, ketenaran, pangkat, jabatan, gelar, untuk membodohi orang awam, untuk berbangga dihadapan para ulama, dsb, berikut ini kita singgung sedikit beberapa hal terpenting yang menyebabkan ilmu kita tidak bermanfaat.</p>
<h5 align="justify">Pertama : Berpegang dengan hawa nafsu setelah datangnya ilmu.</h5>
<p align="justify">Diantara sebab-sebab yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu ialah tidak mengamalkan ilmu itu sendiri, serta masih mendahulukan emosional hawa nafsu, bentuk-bentuk mendahulukan hawa nafsu itu sendiri beragam, Seperti berpegang kepada bukan wahyu ilahi, adakalanya kepada akal semata, atau kepada hawa nafsu, atau kepada mimpi, atau kepada pendapat tuan guru dan pemimpin suatu kelompok tertentu (<em>ta’ashub</em> dan taqlid buta), sekalipun hal itu nyata-nyata bertentangan dengan ilmu yang dimilikinya, baik yang berhubungan dengan akidah, ibadah maupun dawah dan muamalah.</p>
<p align="justify">Hal ini diceritakan oleh Allah dalam Al Quran tetang ulama-ulama orang Yahudi, mereka memiliki ilmu, tetapi ilmu tersebut tidak memberi manfaat kepada diri mereka dalam mengambil kebenaran.</p>
<p align="justify">Sebagaiman yang terdapat dalam firman Allah,</p>
<p align="right">{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً} (الجمعة: 5)</p>
<p align="justify"><em>“Perumpamaan orang-orang yang dibebankan kepada mereka Taurat kemudian mereka tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa lembaran-lembaran yang tebal.”</em></p>
<p align="justify">Allah mencela orang-orang yahudi karena mereka tidak mengamalkan Taurat yang merupakan ilmu yang dibawa nabi Musa As kepada mereka. Diantaranya adalah mereka tidak mau beriman dengan kenabian Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yang sudah diberitakan tetang kedatangannya dalam kitab mereka Taurat, bahkan mereka mengenal cirri-cirinya lebih dari mengenal ciri anak-anak mereka sendiri, bahkan mereka tidak cukup sampai disitu tetapi mereka sesat lebih jauh lagi dengan merubah isi Taurat itu sendiri sesuai dengan kemauan dan kehendak mereka sendiri.</p>
<p align="justify">Contoh lain dalam Al Quran tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya, terdapat dalam firman Allah,</p>
<p align="right">{وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ } (لأعراف: 175-176)</p>
<p align="justify"><em>“Dan bacakanlah kepada mereka tentang berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tetang isi Alkitab), kemudian ia berlepas diri dari ayat-ayat itu, lalu syaitan mengikutinya (sampai ia tersesat), maka ia terjerumus menjadi orang-orang yang sesat. Dan jika kami berkehendak, sungguh kami angkat (derajat)nya dengan ayat-ayat tersebut, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya (yang hina).”</em></p>
<p align="justify">Dalam ayat ini Allah mengisah seseorang yang telah diberi ilmu tetang kebenaran yang harus diikutinya, tetapi orang tersebut berpaling dari mengikuti ilmu yang benar tersebut, saat syaitan melihatnya dalam hal demikian,&#160; maka syaitan seketika itu pun ikut mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran itu, lalu syaitan semakin menyesatkannya, akhirnya ia terjerumus kedalam kesesatan yang amat jauh.</p>
<p align="justify">Padahal kalau ia mau untuk mengamalkan ilmu dan mengikuti kebenaran yang telah dimilikinya, sesungguhnya Allah akan mengangkat derajatnya dengan kebenaran tersebut, tetapi Allah menghinakannya karena ia terlebih dulu telah menghinakan kebenaran dan membuangnya dibelakang punggungnya, ia lebih mengutamakan kesenangan duniawi dari kesenangan ukhrawi, ia lebih suka mengikuti hawa nafsunya yang sesat lagi hina dari mengikuti hidayah yang berkilau bagaikan cahaya.</p>
<p align="justify">Hal ini pulalah yang menimpa sebagian pribadi dan kelompok dalam Islam yang menisbatkan diri mereka kepada pendakwah, terlebih khusus sebagian saudara kita yang telah diberi kesempatan oleh Allah untuk menuntut ilmu Universitas Islam yang tegak diatas Al Quran dan Sunnah menurut pemahaman salafus shaleh, mereka masih mendahulukan hawa nafsunya dan mendahulukan kepetingan duniawi, atau kepentingan kelompoknya diatas kepentingan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p align="justify">Betapa banyaknya ayat Al Quran mencegah kita dari mengikuti hawa nafsu setelah jelasnya kebenaran dan setelah datangnya ilmu, karena hal inilah yang menyebabkan melencengnya ahlul kitab dari mengikuti kebenaran.</p>
<p align="justify">Diantaranya firman Allah yang mulia:</p>
<p align="right">{قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ} (البقرة: 120)</p>
<p align="justify"><em>“Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya, dan jika kamu mengikuiti hawa nafsu mereka setelah pengetahuan datang kepadamu (niscaya) Allah tidak lagi menjadi peindung dan penolongmu.”</em></p>
<p align="justify">Maka di awal tahun ajaran baru ini penulis ingin mengingatkan diri serta para ikhwan seluruhnya baik yang baru datang maupun para ikhwan yang lama, mari kita bersama-sama untuk kembali mengintrofeksi diri kita masing-masing dalam hal yang satu ini yaitu jangan kita sampai mendahulukan kepenting duniawi diatas kepenting ukhrawi.</p>
<p align="justify">Diantara keutamaan ilmu salaf adalah dekatnya buah ilmu mereka, artinya ilmu mereka tersebut membuahkan amal shaleh, seperti bersikap lembut terhadap sesama makhluk, mencintai kebenaran untuk seluruh makhluk, bukannya bahagia dengan kesalahan orang lain, sedikit berbicara banyak beramal, menimbulkan kekhusyukan dalam beribadah, menimbulkan rasa takut kepada Allah.</p>
<p align="justify">Salaf dalam menuntut ilmu lebih banyak mementing buah dari pada mengonggok batang, ibaratkan orang yang berkebun yang penting adalah banyaknya hasil perkebunan, bukan luas dan banyak bibit yang semai, untuk apa banyak pohon yang ditanam tapi tidak satupun yang menghasilkan buah, dan akan lebih baik lagi orang yang punya perkebunan luas dan memiliki hasil panen yang banyak.</p>
<p align="justify">Disebutkan dalam pepatah arab: “Ilmu tampa amal bagai pohon yang tidak berbuah.” Dalam pepatah lain: “Petiklah ilmu dengan amal, jika tidak ia akan pergi.”</p>
<p align="justify">Diantara buah ilmu adalah membuahkan rasa takut kepada Allah, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya mulia,</p>
<p align="right"> {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ} (فاطر: 28)</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya yang palimg takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya adalah para ulama.”</em></p>
<p align="justify">Berkata sebagian salaf: “Ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat tetapi ilmu adalah rasa takut (kepada Allah).</p>
<p align="justify">Berkata lagi sebagian yang lain: “Barangsiapa yang takut kepada Allah maka ia adalah seorang ‘aloim, dan barangsiapa yang melakukan maksiat kepada Allah maka ia adalah seorang jahil.”</p>
<p align="justify">Diantara buah ilmu salaf adalah memberikan kekhusukan kepada mereka dalam beribadah.</p>
<p align="justify">Ilmu yang bermanfaat adalah memperkenalkan pemiliknya dengan Rabb-nya dan menunjukan jalan kepada Rabb-nya sehingga ia mengenalnya, mengesakannya dalam segala bentuk ibadahnya, merasa senang dan dekat dengannya, ia menyembaHR.obnya seakan-akan ia melihatNya.</p>
<p align="justify">Oleh sebab itu kebanyakan para sahabat berkata: “Sesungguhnya yang pertama sekali diangkat dari tengah-tengah manusia adalah rasa khusuk dalam ibadah.</p>
<p align="justify">Berkata Ibnu Mas’ud: ‘kebanyakan orang membaca Al Quran tidak melewati tenggorokannya, dan tetapi jikalau tertamcap dalam hati, ia akan lengket dan bermanfaat.”</p>
<p align="justify">Berkata Hasan Al Bashri: “ilmu itu ada dua macam: ilmu diatas lidah, itu adalah hujah Allah diatas anak Adam, ilmu dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat.”</p>
<p align="justify">Oleh karena kebanyakan salaf berkata: ‘ulama itu ada tiga golongan: pertama: ‘alim dengan Allah, ‘alim dengan perintah Allah, kedua: ‘alim dengan Allah tetapi tidak ‘alim dengan perintah Allah, ketiga ‘alim dengan perintah Allah tetapi tidak ‘alim dengan Allah. (<em>Fadhlu ilmu salaf</em>: 50).</p>
<p align="justify"><strong>Parasitisme ilmu</strong></p>
<p align="justify"><strong></strong><strong>Kedua : Suka berdebat dan berjidal.</strong></p>
<p align="justify">Telah terdapat dalam sebuah hadits tentang larangan berjidal (berdegil),</p>
<p align="right">((ما ضلّ قوم بعد هدىً إلا أوتوا الجَدلّ)) ثم قرأ ) {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ} (الزخرف:58)</p>
<p align="justify"><em>“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah diberi petunjuk kecuali setelah mereka mendapati jidal” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat “Tidaklah mereka itu memberikan perumpamaan kepada engkau kecuali sekedar untuk untuk membantah saja, tetapi mereka itu adalah kaum yang suka bertemgkar.”</em> (HR. At Tirmizi no: 3253, hasan shahih).    <br />Telah berkata sebahagian salaf: “Apabila Allah mengehendaki suatu kebaikan untuk seorang hamba, Allah membukakan untuknya pintu amal, dan menutup darinya pintu jidal, dan apabila Allah mengehendaki kejelekan untuk seorang hamba, Allah menutup untuknya pintu amal dan membuka baginya pintu jidal.”</p>
<p align="justify">Berkata imam Malik: “berjidal adalah menghilangkan cahaya ilmu dan mengeraskan hati, serta menyebabkan permusuhan.” (Ibnu rajab, <em>Fadhlu ilmu salaf</em>: 35).</p>
<p align="justify">Diantara sifat salaf adalah sedikit berbicara, diamnya salaf dari berbantah-bantahan dan berjidal bukannya karena mereka itu lemah dan bodoh, tetapi mereka diam diatas penuh ilmu dan penuh takut kepada Allah.</p>
<p align="justify">Adapun banyak pembicaraan dan komentar dari orang-orang setelah mereka bukan berarti mereka lebih berilmu dari salaf tetapi disebabkan karena mereka suka banyak bicara dan kurangnya warak.</p>
<p align="justify">Sebagaimana yang dikatakan hasan Al Bashri tatkala ia menyasikan orang saling berdebat: “mereka adalah kaum yang malas beribadah dan suka berbicara serta tidak memiliki warak makanya mereka suka ngobrol” . (Ibnu rajab, <em>Fadhlu ilmu salaf</em>: 36).</p>
<p align="justify">Berkata Ibnu mas’ud <em>radhia allahu ‘anhu</em>: “Sesungguhnya kalian berada di zaman yang banyak ulamanya sedikit para khatibnya, akan datang sesudah kalian masa yang banyak khatibnya tetapi sedikit ulamanya, barang siapa yang luas ilmunya dan sedikit omongannya, maka ia adalah terpuji, dan barang siapa yang sebaliknya maka ia adalah tercela.”</p>
<p align="justify">Ibnu rajab berkata: “Kebanyakan generasi sekarang mengira bahwa banyak bicara, suka berjidal, suka berbantah dalam masalah agama, adalah lebih tau dari orang yang tidak seperti demikian, inilah suatu kebodohan, coba kita lihat bagaimana para sahabat sangat sedikit perkataan mereka bila dibandingkan dengan perkataan tabi’iin, sedangkan para sahabat jauh lebih berilmu bila dibandingkan dengan tabi’iin, begitu juga halnya tabi’ tabi’iin dengan tabi”in, ilmu bukanlah diukur dengan banyak riwayat dan tidak pula diukur dengan banyak omongan tetapi ilmu adalah cahaya yang diberikan Allah kedalam hati seseorang yang menjadikannya paham tentang kebenaran, dan mampu membedakan antara yang hak dengan yang batil, serta mengungkapkannya dengan perkataan yang simpel dan padat serta tepat dalam menyampaikan kepada apa yang di maksud” (Ibnu Rajab, <em>Fahdul Ilmi salaf</em>: 37-38)</p>
<p align="justify">Maka perlu untuk diketahui bahwa sesungguhnya bukanlah setiap orang yang luas pembicaraanya, pintar ngomongnya lebih berilmu dari orang yang tidak demikian halnya, sungguh di akhir zaman ini kita telah mendapat cobaan dari sebahagian manusia yang berpandangan demikian.</p>
<h4 align="justify">Ketiga : Mendahulukan kepentingan duniawi diatas kepentingan ukhrawi.</h4>
<p align="justify">Ibnu Rajab menyebutkan dalam kitab beliau (<em>fadhlu ilmu salaf</em> hal: 52-54) beberapa bentuk sikap orang yang memburu kesenangan dunia dengan memobilisasi ukhrawi, adakalanya mengaku memiliki <a href="http://dzikra.com/parasitisme-ilmu/">ilmu</a> tentang keagamaan, tetapi tujuannya dibalik itu adalah ingin mencari kududukan ditengah-tengah manusia, baik dikalangan penguasa atau lainnya, atau untuk mencari pengikut yang banyak dan berbangga dengannya, seperti mengaku sebagai wali dan sebagainya.</p>
<p align="justify">Diantara ciri-cirinya lagi adalah tidak mau tunduk kepada kebenaran, dan memiliki kesombongan terhadap orang yang menegakkan kebenaran, apalagi bila orang tersebut tidak terpandang dimata manusia, kemudian tetap berpegang dengan kebatilan karena takut terbukanya kedok kesesatan dan kebodohannya, saat tersebarnya kebenaran ditengah-tengah manusia.</p>
<p align="justify">Boleh jadi kadangkala ia mecela dirinya sendiri, agar dianggap sebagai orang yang memiliki sifat tawadhuk, supaya orang lain memujinya.</p>
<p align="justify">Allah telah berfirman dalam kitab suci-Nya:</p>
<p align="right">{مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ&#160; * أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَمَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ} [هود: 15-16]</p>
<p align="justify"><em>“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan duniawi dan perhiasannya, niscaya kami akan memberikan balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun didalamnya, mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan di akhirat kelak kecuali neraka, dan hilanglah segala apa yang mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah segala apa yang telah mereka kerjakan.”</em></p>
<p align="justify">Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bahwa ia berkata:</p>
<p align="right">((لو أن أهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند أهله لسادوا به أهل زمانهم ولكنهم بذلوه لأهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم سمعت نبيكم&#160; صلى الله عليه وسلم&#160; يقول من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته كفاه الله هم دنياه ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبال الله في أي أوديتها هلك))</p>
<p align="justify">“kalaulah seandainya pemilik ilmu menjaga ilmu dan meletakannya pada orang yang sebagai pemiliknya, sungguh mereka akan memimpin zaman mereka, tetapi mereka memberikannya pada pemilik dunia, supaya mereka memperoleh kedunian mereka, maka mereka dihinakan (dihadapan) pemilik dunia, aku telah mendengar Nabi kalian bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan kepentingannya satu kepentingan yaitu kepentingan akhiranya niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhan dunianya, barangsiapa yang terpencar-pencar kepentingannya dalam urusan dunia, Allah tidak menghiraukan dilembah manapun ia binasa.” (HR. Ibnu Majah no: 257).</p>
<p align="justify">Dalam kenyataan sehari-hari kita sering menyaksikan orang-orang yang binasa dan celaka dalam berbagai lembah yang hina, demi mencari kesenangan duniawi dengan memperdagangkan urusan ukhrawi, ada yang binasa dilembah maksiat, lembah partai politik, lembah muzawwir dan mutawwif (khusus bagi yang beada di Madinah dan Makkah), dan lain-lain sebagainya, harapan orang tua, sanak family dan orang kampung serta umat telah lenyab ditelan masa entah dilembah mana tercecernya.</p>
<p align="justify">Imam Asy Syaukany mengulas dalam kitabnya “<em>Adabuthalab wal muntahal’ari</em>b”: diantara sebab yang membuat seseorang menjauhi kebenaran, dan menyebunyikan dalil-dalil kebenaran serta tidak menerangkan apa yang diwajibkan Allah kepadanya untuk menerangkannya adalah kecintaan kepada kehormatan dan harta.</p>
<p align="justify">Banyak fenomena yang kita saksikan di tengah para <em>thalabul ilmi</em>, yang tidak mungkin kita kupas dalam bahasan yang ringkas ini, tetapi orang yang arif dan bijak dengan isyarat sudah cukup untuk mengingatkannya.</p>
<p align="justify"><em>Wallahu a’alam bishawaab.</em></p>
<p align="justify">Untuk lebih menambah kepuasan tetang topik bahasan kita kali ini silakan para ikhwan merujuk buku-buku berikut ini:</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Kitabul ‘ilmi karangan Abu Khaitsamah. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Al fagiih wal Mutafaqqih karangan Khatib Al Baghdady. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Iqtidhak Al ‘ilmi Al ‘amal karangan Khatib Al Baghdady. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Jami’ bayan al ‘ilmi wa Fadhlihi karangan Ibnu Abdilbar. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Tazkirotusami’ wal muta’alim karangan Ibnu Jama’ah. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Fadhlu ilmu salaf karangan Ibnu Rajab Hambaly. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Adabut Thalab karangan Imam Asy Syaukany. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Kitabul ‘ilmi karangan Syekh Al ‘utsaimin. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Kaifa Tathlubu ‘ilma karangan Abdullah Jibrain. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Hilya thalibil ‘ilmi karang Bakar Abu Zaid. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Ma’alim fi thoriqil Ishlah karangan Abul Aziz As sadhaan. </div>
</li>
</ol>
<p align="justify">Oleh: Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, M.A.</p>
<p align="justify"><strong>Artikel <a href="http://www.dzikra.com">www.dzikra.com</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://srisumanto.wordpress.com/category/artikel/'>Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/srisumanto.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/srisumanto.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/srisumanto.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/srisumanto.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/srisumanto.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/srisumanto.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/srisumanto.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/srisumanto.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/srisumanto.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/srisumanto.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/srisumanto.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/srisumanto.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/srisumanto.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/srisumanto.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=441&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/titian-ilmu-bagian-3selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5bbb3466906cc586782596e6588b5c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">srisumanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://srisumanto.files.wordpress.com/2011/12/859675_book____thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">859675_book___</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terminologi Hati Dalam Pandangan Islam (Bagian 2)</title>
		<link>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/terminologi-hati-dalam-pandangan-islam-bagian-2/</link>
		<comments>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/terminologi-hati-dalam-pandangan-islam-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 14:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>srisumanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://srisumanto.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Ciri Dan Sifat Hati Yang Baik Hati yang tersentuh dan terkesan dengan ayat-ayat Allah. Sebagaimana Allah gambarkan tentang hati orang-orang yang beriman ketika mendengar ayat-ayat Allah: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ}[الأنفال/2] “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=437&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 align="justify"><font color="#333333" face="Verdana"></font></h3>
<p align="justify"><img title="Terminologi Hati Dalam Pandangan Islam (Bagian 2)" alt="Terminologi Hati Dalam Pandangan Islam (Bagian 2)" src="http://dzikra.com/wp-content/uploads/et_temp/Ciri-Dan-Sifat-Hati-Yang-Baik-52636_175x175.jpg" /></p>
<h4 align="justify"><u>Ciri Dan Sifat Hati Yang Baik</u></h4>
<p align="justify"><strong>Hati yang tersentuh dan terkesan dengan ayat-ayat Allah.</strong></p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah gambarkan tentang hati orang-orang yang beriman ketika mendengar ayat-ayat Allah:</p>
<p align="right">{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ}[الأنفال/2]</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah <strong></strong>gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”</em></p>
<p><span id="more-437"></span>
<p align="justify"><em></em>    <br />Hal ini terbukti dalam kehidupan para sahabat ketika mendengarkan nasehat dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Irbadh bin Sariyah <em>radhiallahu ‘anhu</em>:</p>
<p align="right">((صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -r- ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ)) رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه.</p>
<p align="justify"><em>“Pada suatu Rasulullah shalat mengimami kami, setelah itu beliau menghadap kearah kami, lalu beliau menyampaikan nasehat yang sangat dalam. membuat air mata menetes dan membuat hati bergetar (tersentuh).”</em></p>
<p align="justify">Hadits ini menunjukkan tentang betapa baiknya hati para sahabat, sehingga amat mudah terkesan dengan nasehat yang mereka dengar.</p>
<p align="justify"><strong>1.</strong> Hati yang lembut, santun dan penuh kasih.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah gambarkan tentang kelembutan hati Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap umatnya:</p>
<p align="right">{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة/128]</p>
<p align="justify"><em>“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”</em></p>
<p align="justify"><strong>2.</strong> Hati yang sabar.</p>
<p align="justify">Sabar terbagi kepada tiga macam:</p>
<p align="justify">Pertama: sabar dalam menjalankan perintah-perintah dalam agama. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p align="right">وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [الأنفال/46]</p>
<p align="justify"><em>“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”</em></p>
<p align="justify">Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan untuk bersabar setelah perintah untuk berbuat taat kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya amat butuh pada kesabaran.</p>
<p align="justify">Kedua: sabar dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang diharamkan dalam agama. Untuk hal ini Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p align="justify">Ketiga: sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian (musibah) dari Allah. Seperti Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p align="right">وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [البقرة/155-157]</p>
<p align="justify"><em>“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.</em><em> yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”</em></p>
<p align="justify"><strong>3.</strong> Hati yang teguh dan kokoh dalam memegang kebenaran.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah gambarkan kepada kita tentang kisah pemuda ashabul kafi bahwa mereka pemuda-pemuda yang teguh pendiriannya dalam memegang kebenaran.</p>
<p align="right">إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا [الكهف/13، 14]</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.</em><em> Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri.”</em></p>
<p align="justify">Demikian pula firman Allah:</p>
<p align="right">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [الحجرات/15]</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”</em></p>
<p align="justify">Di zaman kita ini betapa banyaknya orang yang ragu-ragu dan plin-plan serta bimbang dalam meyakini dan memperjuangkan kebenaran. Hal itu disebabkan tidak adanya kemantapan hati dalam meykini sebuah kebenaran.</p>
<p align="justify"><strong>4. </strong>Hati yang pemaaf.</p>
<p align="justify">Banyak sekali ayat-ayat maupun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan sifat pemaaf dan mencela sifat balas dendam.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah menggambarkarkan tentang sifat orang-orang yang bertaqwa dalam firman-Nya:</p>
<p align="right">وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [آل عمران/133، 134]</p>
<p align="justify"><em>“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,</em><em> (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”</em></p>
<p align="justify">Dan juga firman Allah:</p>
<p align="right">خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ [الأعراف/199]</p>
<p align="justify"><em>“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”</em></p>
<p align="justify">Dalam kenyataan hidup kita sehari-hari pada saat ini amat jarang kita temukan orang suka pemaaf terhadap sesama.</p>
<h4 align="justify">Bentuk Dan Jenis Penyakit Hati</h4>
<p align="justify">Bentuk penyakit hati secara umum ada dua macam:</p>
<p align="justify">Pertama: <em>Asy Syubuhaat</em> (berhubungan dengan keyakinan) yaitu menyenagi segala bentuk keyakinan yang kufur dan sesat, seperti syirik, nifaq dan bid’ah dan seterusnya.</p>
<p align="justify">Kedua: <em>Asy Syahawaat</em> (berhubungan dengan akhlak) yaitu menyenangi berbagai macam bentuk maksiat. Diantaranya ada yang berhubungan dengan kepuasan sex, seperti zina, onani, lesbian, homosex dan sterusnya. Dan diantaranya ada pula yang behubungan tingkah laku, seperti sombong, hasad, dengki, congkak dan seterusnya.</p>
<p align="justify">Berbagai jenis penyakit hati lahir dari dua bentuk penyakit diatas, diantaranya:</p>
<p align="justify"><strong>1. </strong>Al Gahflu (Lalai).</p>
<p align="justify">Allah mencela hati yang lalai dari merenungkan, memikirkan dan memahami ayat-ayat Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an:</p>
<p align="right">وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [الأعراف/179]</p>
<p align="justify"><em>“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”</em></p>
<p align="justify">Dan firman Allah:</p>
<p align="right">مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (2) لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ [الأنبياء/2، 3]</p>
<p align="justify"><em>“Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main,</em><em> (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.”</em></p>
<p align="justify"><strong>2. </strong>Keluh kesah, gundah dan perasaan cemas yang berlebihan.</p>
<p align="justify">Kondisi ini timbul pada saat seseorang takut atas kehilangan sesuatu yang telah diperolehnya, atau takut tidak memperoleh apa yang diharapkannya.</p>
<p align="justify">Oleh sebab itu Allah melarang rasul-Nya untuk tidak bersedih dan terhadap tipu daya orang-orang kafir kuraisy.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah berfirman:</p>
<p align="right">وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ (127) إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ [النحل/127، 128]</p>
<p align="justify"><em>“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan</em><em>. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”</em></p>
<p align="justify">Demikian pula perkataan para malaikat kepada nabi Luth, tatkala kaumnya akan dihacurkan Allah. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p align="right">وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ [العنكبوت/33]</p>
<p align="justify"><em>“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu. kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).”</em></p>
<p align="justify"><strong>3. </strong>Putus asa dan kekecewaan yang berlebihan.</p>
<p align="justify">Kondisi ini timbul ketika seseorang ditimpa musibah seperti kehilangan sesuatu yang amat dicintainya, atau gagal memperolehnya, bisa&#160; berupa harta ataupun jiwa. Banyak kita sakaikan dalam kehidupan kita sehari-hari orang yang mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri atas kesusahan dan kesulitan yang menimpanya.</p>
<p align="justify">Pada hal Allah mengharamkan untuk berputus asa dari rahmat-Nya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p align="right">لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ&#160; [فصلت/49]</p>
<p align="justify"><em>“Tidak pantas Manusia itu jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.”</em></p>
<p align="justify">Dan firman Allah:</p>
<p align="right">وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ [يوسف/87]</p>
<p align="justify"><em>“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”</em><em></em></p>
<p align="justify"><strong>4. </strong>Buta terhadap kebenaran.</p>
<p align="justify">Allah mencela orang yang buta hatinya dari melihat bukti-bukti kebenaran dan tanda-tanda kebesaran Allah, sebagaimana firman Allah:</p>
<p align="right">أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ [الحج/46]</p>
<p align="justify"><em>“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dapat memaham (kebenaran)i, atau mempunyai telinga yang dapat mendengar (kebenaran)? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”</em></p>
<p align="justify"><strong>5. </strong>Keras membatu tidak mampu ditembus oleh nasehat-nasehat agama.</p>
<p align="justify">Hati yang secara fisik terlihat lentur dan lunak namun pada hakikatnya bisa lebih keras dari batu saat diberi nasehat. Bahkan batu bisa lebih lunak dari sebagian hati manusia. Sebagaimana Allah ceritakan tentang hati orang-orang Bani Israil dalam surat Al baqarah:</p>
<p align="right">ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُون [البقرة/74]</p>
<p align="justify"><em>“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”</em></p>
<p align="justify"><strong>6. </strong>Penyakit Nifak (kemunafikkan).</p>
<p align="justify">Kemunafikkan adalah memperlihatkan iman secara lahir dan menyembunyikan kekufuran secara batin. Kemunafikkan adalah salah bentuk kekufuran dan ia adalah penyakit hati yang sangat berbahaya dan sangat keji oleh sebab itu pelakunya lebih berat mendapatkan zab dari orang kafir yang terang-terangan.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah gambarkan tentang hati orang-orang munafiq dalam ayat berikut ini:</p>
<p align="right">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [البقرة/8-10]</p>
<p align="justify"><em>“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.</em><em> Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”</em></p>
<p align="justify"><strong>7.</strong> Ar Ru’bu (Cemas dan takut).</p>
<p align="justify">Penyakit ini Allah masukkan ke dalam hati orang-orang&#160; kafir dan musyrik.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Naya:</p>
<p align="right">سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ [آل عمران/151]</p>
<p align="justify"><em>“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.”</em></p>
<p align="justify"><strong>8.</strong> Terkunci dari menerima kebenaran.</p>
<p align="justify">Ini adalah sifat hati orang kafir yang sudah tidak mau menerima peringatan dan seruan untuk beriman kepada Allah dan hari akhir.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah sebutkan pada awal surat Al Baqarah:</p>
<p align="right">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (6) خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ [البقرة/6، 7]</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.</em><em> Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”</em></p>
<p align="justify"><strong>9. </strong>Suka mengikuti sesuatu yang samar-samar.</p>
<p align="justify">Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p align="right">فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا [آل عمران/7]</p>
<p align="justify"><em>“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang samar-samar,&#160; untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya.”</em></p>
<p align="justify">Demikian pula disebutkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p align="right">« إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ .” رواه البخاري ومسلم.</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang harampun sudah jelas. Dan diantar keduanya ada perkara yang sama-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjauhi sesuatu yang samar-samar berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barangsipa yang melakukan sesuatu yang sama-samar maka ia telah jatuh kepada yang haram. Bagaikan sipenggembala yang mengegembala di batas pagar, boleh jadi ia akan masuk kedalamnya. Sesungguhnya setiap raja memiliki batas, sesungguhnya batasan Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah sesungguhnya dalam jiwa seseorang terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasdnya. Dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah! Ia adalah hati.” </em></p>
<p align="justify"><strong>10. </strong>Beroyalitas kepada orang kafir.</p>
<p align="justify">Salah satu jenis penyakit hati yang sangat dicela dan berbahaya adalah beroyalitas kepeada orang kafir. Seperti membela keyakinan mereka dengan alasan torelasi dan menyalahkan orang yang menentang keyakinan mereka. Penyakit ini mulai terjangkit dengannya sebagian intelektual zaman ini. Hal ini sangat diharamkan atas seorang muslim sebagaimana terdapat dalam firman Allah berikut ini:</p>
<p align="right">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ [المائدة/51، 52]</p>
<p align="justify"><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi penolong-penolong(mu); sebahagian mereka adalah penolong ahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu yang mengambil mereka menjadi penolong, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.</em><em> Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.”</em></p>
<p align="justify"><strong>11. </strong>Ragu dan bimbang terhadap kebenaran.</p>
<p align="justify">Diera kemajuan informasi ini banyak sekali hal-hal yang dapat meragukan dan membibangkan seseorang terhadap kebenaran. Bahkan tidak bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang batil denga yang hak, antar kafir dan iman, antara tauhid dan syirik, anatar sunnah dan bid’ah. Seperti keraguan tentang kekalan kehidupan akhirat dan kejadian hari kiamat. Kebimbangan terhadap kebenaran adalah salah satu penyakit hati yang di sebutkan Allah dalam firman-Nya berikut.</p>
<p align="right">إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ [التوبة/45]</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” </em><em></em></p>
<p align="justify">Dan firman Allah:</p>
<p align="right">أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (50) إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [النور/50-51]</p>
<p align="justify"><em>“Apakah dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.</em><em> Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nyauntuk memberi keputusan di antara mereka,<strong></strong>ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”</em></p>
<p align="justify"><strong>12. </strong>Mudah terfitnah oleh rayuan setan.</p>
<p align="justify">Hati yang sakit dan tidak diimunisasi dengan ilmu dan amal sholeh akan sangat mudah terpengaruh oleh rayuan setan. Sebagaiamana terdapat dalam firman Allah berikut ini:</p>
<p align="right">لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ [الحج/53]</p>
<p align="justify"><em>“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu sebagai ujian bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya.”</em><em></em></p>
<p align="justify">Demikian pula dijelaskan dalam sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p align="right">« تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ .” رواه مسلم.</p>
<p align="justify"><em>“Fitnah-fitnah akan merajut hati seperti rajutan tikar, sedikit demi sedikit. Setiap hati yang terpengaruh dengannya akan terdapat dalamnya bintik hitam. Dan setiap hati yang menolaknya akan terdapat dalamnya bintik putih. Sehingga dari kedua hati tersebut salah satu dari keduanya menjadi putih bagaikan batu putih jernih. Maka fitnah tidak mampu mempengaruhinya selama berdirinya langit dan bumi. Dan hati yang lain menjadi hitam lebam. Bagai mangkok yang terlungkup, tidak kenal yang ma’ruf dan tidak pula yang mungkar, kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.” </em></p>
<p align="justify">=Bersambung insya Allah=</p>
<p align="justify"><a href="http://www.dzikra.com"><strong>www.Dzikra.com</strong></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://srisumanto.wordpress.com/category/artikel/'>Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/srisumanto.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/srisumanto.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/srisumanto.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/srisumanto.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/srisumanto.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/srisumanto.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/srisumanto.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/srisumanto.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/srisumanto.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/srisumanto.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/srisumanto.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/srisumanto.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/srisumanto.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/srisumanto.wordpress.com/437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=437&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/terminologi-hati-dalam-pandangan-islam-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5bbb3466906cc586782596e6588b5c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">srisumanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dzikra.com/wp-content/uploads/et_temp/Ciri-Dan-Sifat-Hati-Yang-Baik-52636_175x175.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Terminologi Hati Dalam Pandangan Islam (Bagian 2)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Mesti Ujub?</title>
		<link>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/kenapa-mesti-ujub/</link>
		<comments>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/kenapa-mesti-ujub/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 13:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>srisumanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://srisumanto.wordpress.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Betapa banyak diantara kita yang berusaha untuk berlari kencang menjauhi riyaa&#8217; karena takut amalan kita hancur lebur terkena penyakit riya. Akan tetapi pada waktu yang bersamaan jiwa kita terulurkan dalam dekapan ujub…, bangga dengan amalan yang telah kita lakukan.., bangga dengan ilmu yang telah kita miliki…, bangga dengan keberhasilan dakwah kita.., bangga dengan kalimat-kalimat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=435&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 align="justify">&#160;</h4>
<p align="justify"><img border="0" src="http://firanda.com/images/stories/pict-article/broken_heart.jpg" width="250" />Betapa banyak diantara kita yang berusaha untuk berlari kencang menjauhi riyaa&#8217; karena takut amalan kita hancur lebur terkena penyakit riya. Akan tetapi pada waktu yang bersamaan jiwa kita terulurkan dalam dekapan ujub…, bangga dengan amalan yang telah kita lakukan.., bangga dengan ilmu yang telah kita miliki…, bangga dengan keberhasilan dakwah kita.., bangga dengan kalimat-kalimat indah yang kita rangkai…, dst…??!!</p>
<p><span id="more-435"></span>
<p align="justify">Bukankah ujub juga menggugurkan amalan sebagaimana riyaa&#8217;..??    <br />Bukankah ujub juga menyebabkan pelakunya terjerumus dalam neraka jahannam sebagaimana riyaa&#8217;…?    <br />Bukankah ujub juga merupakan salah satu bentuk syirik kecil sebagaimana riya&#8217;…??    <br />Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :</p>
<p align="right">وَكَثِيرًا مَا يَقْرِنُ النَّاسُ بَيْنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ فَالرِّيَاءُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالْخَلْقِ وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } فَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } خَرَجَ عَنْ الرِّيَاءِ وَمَنْ حَقَّقَ قَوْلَهُ { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } خَرَجَ عَنْ الْإِعْجَابِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمَعْرُوفِ : { ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ }    </p>
<p> <em></em>
<p align="justify"><em>&quot;Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa&#8217; dan ujub. Riyaa termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada orang lain-pen) adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu merasa dirinyalah atau kehebatannyalah yang membuat ia bisa berkarya-pen). Ini merupkan kondisi orang yang sombong. Orang yang riyaa&#8217; tidak merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ &quot;Hanya kepadaMulah kami beribadah&quot;, dan orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ &quot;Dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan&quot;. Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ maka ia akan keluar lepas dari riyaa&#8217;, dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah&#160; وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ maka ia akan keluar terlepas dari ujub&quot;</em> (Majmuu&#8217; Al-Fataawaa 10/277).</p>
<p align="justify">Rasulullah bersabda :</p>
<p align="right">ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ    <br /><em>     <br /></em></p>
<p align="justify"><em>&quot;Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri&quot; </em>(HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)    <br />Ibnul Qoyyim rahimahullah menukilkan perkataan seorang salaf, &quot;Sesungguhnya seorang hamba benar-benar melakukan sebuah dosa, dan dengan dosa tersebut menyebabkan ia masuk surga. Dan seorang hamba benar-benar melakukan sebuah kebaikan yang menyebabkannya masuk neraka. Ia melakukan dosa dan dia senantiasa meletakkan dosa yang ia lakukan tersebut di hadapan kedua matanya, senantiasa merasa takut, khawatir, senantiasa menangis dan menyesal, senantiasa malu kepada Robb-Nya, menunudukan kepalanya dihadapan Robbnya dengan hati yang luluh. Maka jadilah dosa tersebut sebab yang mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungannya. Hingga dosa tersebut lebih bermanfaat baginya daripada banyak ketaatan…    <br />Dan seorang hamba benar-benar melakukan kebaikan yang menjadikannya senantiasa merasa telah berbuat baik kepada Robbnya dan menjadi takabbur dengan kebaikan tersebut, memandang tinggi dirinya dan ujub terhadap dirinya serta membanggakannya dan berkata : Aku telah beramal ini, aku telah berbuat itu. Maka hal itu mewariskan sifat ujub dan kibr(takabur) pada dirinya serta sifat bangga dan sombong yang merupakan sebab kebinasaannya…&quot; (Al-Wabil As-Shoyyib 9-10)    <br />Seorang penyair berkata :</p>
<p align="right">والعُجْبَ فَاحْذَرْهُ إِنَّ الْعُجْبَ مُجْتَرِفٌ&#160;&#160;&#160; أَعْمَالَ صَاحبِهِ فِي سَيْلِهِ الْعَرِمِ    <br /><em>     <br /></em></p>
<p align="justify"><em>Jauhilah penyakit ujub, sesungguhnya penyakit ujub akan menggeret amalan pelakunya ke dalam aliran deras arusnya</em>    <br />Lantas kenapa kita begitu waspada terhadap riyaa namun melalaikan penyakit ujub…?    <br />Sesungguhnya racun ujub akan mengantarkan pelakunya kepada penyakit-penyakit kronis lainnya, diantaranya :    <br /><strong>     <br />-&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Lupa untuk bersyukur kepada Allah, bahkan malah mensyukuri diri sendiri, seakan-akan amalan yang telah dia lakukan adalah karena kehebatannya      <br />-&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Lenyap darinya sifat tunduk dan merendah dihadapan Allah yang telah menganugrahkan segala kelebihan dan kenikmatan kepadanya</strong>    <br /><strong>-&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Terlebih jelas lagi lenyap sikap tawadhu&#8217; dihadapan manusia</strong>    <br /><strong>-&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Bersikap sombong (merasa tinggi) dan merendahkan orang lain, tidak mau mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Jiwanya senantiasa mengajaknya untuk menyatakan bahwasanya dialah yang terbaik, dan apa yang telah diamalkan oleh orang lain merupakan perkara yang biasa yang tidak patut untuk dipuji. Berbeda dengan amalan dan karya yang telah ia lakukan maka patut untuk diacungkan jempol.</strong>    <br />Kalimat indah yang pernah diucapkan oleh seorang ulama :    <br /><em>     <br />&quot;Orang yang ujub merasa bahwa dirinya paling tinggi dihadapan manusia yang lain… bahkan merasa dirinya lebih tinggi di sisi Allah.., namun pada hakikatnya dialah orang yang paling rendah dan hina di sisi Allah&quot;.</em>    <br /><strong>Kenapa Mesti Ujub?</strong>    <br />Sebelum kita terlena dengan ujub yang menggerogoti hati kita maka hendaknya kita renungkan tentang diri kita. Kenapa kita ujub..??, bukankah kita ujub karena amalan kita serta hasil karya yang banyak dan hebat…??. Jika perkaranya demikian maka hendaknya renungkanlah perkara-perkara berikut ini :    <br /><strong>     <br />Pertama : Sudah yakinkah amalan-amalan kita tersebut dibangun di atas keikhlasan kepada Allah??</strong>    <br />Ikhlas merupakan perkara yang sangat mulia, yang menjadikan pelakunya menjadi sangat tinggi dan mulia di sisi Allah. Orang yang ikhlas hatinya hanya sibuk mengaharapkan keridhoan Allah dan tidak peduli dengan komentar dan penilaian manusia yang tidak memberi kemanfaatan dan tidak memudhorotkan. Yang paling penting baginya adalah penilaian Allah terhadap amalannya.    <br />Orang yang ikhlas adalah orang yang amalannya tatkala bersendirian lebih banyak daripda amalannya tatkala dilihat oleh orang lain.    <br /><strong>Kedua : Bukankah banyak hal yang bisa menggugurkan amalan-amalan kita tersebut??</strong>    <br />Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata &quot;Penggugur dan perusak amalan sangatlah banyak.</p>
<p align="right">وَلَيْسَ الشَّأْنُ فِي الْعَمَلِ إِنَّمَا الشَّأْنُ فِي حِفْظِ الْعَمَلِ مِمَّا يُفْسدُهُ وَيُحْبِطُهُ    </p>
<p align="justify">Dan yang penting adalah bagaimana menjaga amal agar tidak rusak dan gugur bukan yang penting adalah beramalnya.   <br />Riyaa&#8217; –meskipun sekecil apapun- merupakan penggugur amal, dan bentuk-bentuknya sangatlah banyak.&#160; Demikian juga amalan yang tidak dibangun diatas ittibaa&#8217; sunnah juga merupakan penggugur amalan. Sikap al-mann dalam hati terhadap Allah (yaitu merasa telah berbuat baik kepada Allah dengan mengungkit-ngungkit dan menyebut-nyebut kebaikan tersebut -pen) juga menghancurkan amalan. Demikian juga sikap al-mann (yaitu mengungkit-ngungkitnya) dalam sedekah, berbuat kebaikan, dan bersilaturahmi juga membatalkan amalan, sebagaimana firman Allah</p>
<p align="right">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى&#160; </p>
<p> <em></em>
<p align="justify"><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)</em> (QS Al-Baqoroh : 264)    <br />Dan mayoritas manusia tidak mengetahui tentang hal-hal buruk yang bisa menggugurkan amalan-amalan kebajikan. Allah telah berfirman</p>
<p align="right">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ<em>     <br /></em></p>
<p align="justify"><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari </em>(QS Al-Hujuroot : 2)    <br />Maka (dalam ayat ini-pen) Allah telah mengingatkan kaum mukminin agar amalan mereka tidak gugur karena mereka mengeraskan suara mereka kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagaimana mereka mengeraskan suara diantara mereka. Hal ini bukanlah kemurtadan akan tetapi merupakan kemaksiatan yang menggugurkan amalan dan pelakunya tidak sadar. Maka bagaimana lagi dengan orang yang mendahulukan perkataan seseroang di atas perkataan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, petunjuknya, dan jalannya??, bukankah amalannya telah gugur dan dia dalam keadaan tidak sadar??!!    <br />Diantara hal yang menggugurkan amalan adalah sebagaimana sabda Nabi</p>
<p align="right">مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْر فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ    </p>
<p align="justify">&quot;Barangsiapa yang meninggalkan sholat ashar maka telah gugur amalannya&quot; (HR Al-Bukhari no 553)   <br />Dan termasuk dalam hal ini perkataan Aisyah –semoga Allah meridhoinya dan meridhoi ayahnya- kepada Zaid bin Arqom rahdiallahu &#8216;anhu tatkala melakukan transaksi dengan sistem &#8216;iinah (riba)</p>
<p align="right">إِنَّهُ قَدْ أَبْطَلَ جِهَادَهُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ إِلاَّ أَنْ يَتُوْبَ    </p>
<p> <em></em>
<p align="justify"><em>&quot;Sesungguhnya ia (Zaid) telah menggugurkan (pahala) jihadnya bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kecuali jika ia bertaubat&quot;</em>    <br />Transaksi dengan system &#8216;iinah bukanlah kemurtadan, paling banter ia merupakan kemaksiatan.    <br />Oleh karenanya mengetahui perkara-perkara yang bisa membatalkan amal tatkala amalan sedang dikerjakan dan demikian juga hal-hal yang bisa membatalkan amal setelah dikerjakannya amal merupakan perkara yang sangat penting untuk diketahui oleh seorang hamba dan diwaspadai serta untuk mengecek dirinya&quot; (Al-Wabil As-Shoyyib 21-22)    <br /><strong>     <br />Ketiga : Bukankah penilaian Allah yang paling utama adalah tentang hati dan keimanan seseorang?, bukan hanya sekedar amalan yang dzohir??</strong>    <br />Betapa banyak orang yang dzohirnya kurang amalannya dan seakan-akan mata kita merendahkannya, namun ternyata ia sangat tinggi di sisi Allah. Sebagai contoh nyata adalah Uwais Al-Qoroni rahimahullah (lihat http://www.firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/17-tabiin-terbaik-uwais-al-qoroni)    <br /><strong>     <br />Keempat : Betapa banyak dosa yang kita lakukan tanpa kita sadari, dan betapa banyak dosa yang kita lakukan dan kita sadari namun kita melupakannya??</strong>    <br />Betapa sering kita melupakan dosa-dosa yang kita lakukan.., bukankah terlalu banyak dosa yang dilakukan oleh kedua mata kita..??, dosa yang dilakukan oleh kedua telinga kita..??, dosa-dosa yang dilakukan oleh lisan kita..??, dosa-dosa yang dilakukan oleh hati kita…??    <br />Sebagai contoh, coba sekarang kita berusaha untuk mengingat kembali dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh lisan kita..??, apakah kita masih ingat siapa saja yang pernah kita ghibahi..??, siapa saja yang pernah kita sakiti hatinya dengan perkataan kita…??. Tentu kebanyakannya telah kita lupakan.    <br />Belum lagi dosa-dosa yang pernah kita lakukan dengan hati kita..??    <br />Bukankah takabbur, hasad, berburuk sangka juga merupakan dosa…??    <br />Jika perkaranya demikian…bahwasanya tidak satu amalanpun yang kita yakini kita lakukan ikhlas karena Allah…dan tidak satu amalanpun yang ikhlas kita lakukan lantas kita yakin pasti diterima oleh Allah karena selamat dari hal-hal yang merusaknya…, maka apakah yang bisa kita banggakan untuk bisa ujub di hadapan Allah dan merasa lebih baik dari orang lain…???.</p>
<p align="justify">Kota Nabi, 21 Muharram 1432 / 27 Desember 2010   <br />Firanda Andirja    <br /><a href="http://www.firanda.com">www.firanda.com</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://srisumanto.wordpress.com/category/artikel/'>Artikel</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/srisumanto.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/srisumanto.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/srisumanto.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/srisumanto.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/srisumanto.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/srisumanto.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/srisumanto.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/srisumanto.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/srisumanto.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/srisumanto.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/srisumanto.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/srisumanto.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/srisumanto.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/srisumanto.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=srisumanto.wordpress.com&amp;blog=7066238&amp;post=435&amp;subd=srisumanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://srisumanto.wordpress.com/2011/12/13/kenapa-mesti-ujub/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5bbb3466906cc586782596e6588b5c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">srisumanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://firanda.com/images/stories/pict-article/broken_heart.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
